Senin, 02 Maret 2015

Alur Pengisian Pelaporan Penggunaan Dana BOS Online

Juknis BOS Tahun 2013 : Permendikbud  No 76 Tahun 2012

Halaman Utama www.bos.kemdikbud.go.id

Masukkan Kode Registrasi dan NPSN Sebagai Password

Memulai Laporan

Dibutuhkan :
Kode Registrasi
Password
>> Password awal adalah NPSN, selanjutnya dapat diubah

Kendala :
Perubahan Kode Registrasi
Perubahan NPSN
Lupa password
Riwayat akses halaman web lama masih tersimpan di browser

Menghilangkan Riwayat pada Browser

Seluruh angka yang dimasukkan harus berupa angka saja, tanpa tanda titik, koma dan lainnya.
Total Penggunaan Triwulan dan Sisa Triwulan akan dihitung secara otomatis.
Isian Sisa Saldo Triwulan sebelumnya hanya dapat diisi di Triwulan I, untuk triwulan berikutnya berdasarkan perhitungan.

Sabtu, 10 Maret 2012

TENTUKAN PERUBAHAN - JANGAN MENUNGGU




EDDY LUTANG

http://eddynitha.blogspot.com/


---------------------------

Artikel Utama:

---------------------------

Tentukan Perubahan - Jangan Menunggu!...

Ditulis oleh: Eddy Lutang



Banyak orang yang suka mengeluh dalam hidupnya. Misalnya, dengan menyalahkan nasib buruk yang menimpanya.

Tentu saja cara ini tidak akan pernah menjadikan kehidupannya menjadi lebih baik, bukan?


Ada sebuah kata bijak mengatakan :



"You can not chance the wind direction, but you can only chance your wing direction"


Kita tidak akan pernah bisa merubah arah angin, yang dapat kita lakukan adalah mengubah arah sayap.

Dengan kata lain...

'Realita' kehidupan tidak akan berubah kecuali kita sendirilah yang mengubah 'sudut pandang' terhadap realita yang ada!


Fakta: "Tidak ada seorang pun yang memilih kita untuk sukses. Kita sendirilah yang menentukan pilihan tersebut!"


Kebanyakan orang akan tertarik sejenak ketika diingatkan akan hal di atas, tapi kemudian berlalu kembali.... Sementara

waktu terus berjalan, dan akhirnya tidak pernah ada perubahan dalam hidupnya! Sangat disayangkan.

Seringkali orang tidak berani melakukan perubahan dalam hidupnya. Dia hanya menunggu, dan menunggu adanya

perubahan tersebut.

Menunggu bantuan orang lain, menunggu bantuan teman untuk mendapatkan pekerjaan yang enak, sampai menunggu

warisan ;-) Sekarang logikanya, jika memang hanya dengan menunggu perubahan itu akan datang, maka jumlah orang sukses seharusnya jauh lebih banyak.


Bukankah kenyatannya tidak demikian? Lalu, jika ingin sukses, apa yang seharusnya kita lakukan?


Ciptakan perubahan!


Jangan selalu menunggu orang lain.


Berikut beberapa tips yang bisa membantu

kita untuk menciptakan perubahan:


"Do your best, whatever happens will be for the best"


Lakukan dan selesaikan semua tugas dan pekerjaan semaksimal mungkin, bukan hanya terus menunggu dan

berharap. Lakukan semuanya dengan tujuan untuk selalu mendapatkan hasil *terbaik* yang bisa teman2 capai!


2. Mulai buat jaringan seluas-luasnya.


Dengan banyak mengenal orang, maka pengetahuan kita akan semakin bertambah.

Seseorang yang kelihatannya sederhana bisa jadi menyimpan kedalaman ilmu yang tidak kita duga! Oleh sebab itu,

alangkah bijaknya jika kita menjadikan 'setiap orang adalah guru' dan kehidupan ini adalah universitasnya.


3. Berusahalah selalu untuk bersikap proaktif.


Sikap ini sangat diperlukan jika ingin mendapatkan kesempatan yang lebih luas dan cepat dalam berbagai macam hal!


4. Bersikaplah Fleksibel.


Cobalah untuk memahami suatu hal dari berbagai sudut pandang. Jangan terpaku pada satu cara, yang bisa jadi

tidak lagi relevan kita gunakan. Dengan bersikap fleksibel, wawasan kita akan semakin bertambah.


Satu hal penting yang harus selalu diingat: Kita-lah yang memutuskan untuk berubah. Kita-lah yang menentukan menjadi sukses, bukan orang lain!


Jika pilihan sukses tidak pernah kita ambil, maka orang lain akan mengambil pilihan tersebut. Dan, kita akhirnya hanya akan menyaksikan kesuksesan mereka, tanpa pernah merasakannya...


Bukankah saya dan teman2 tidak berharap demikian? Jika memang tidak, tentukan perubahan...

MULAI HARI INI. Jangan terus menunggu! ^_^



salam damai.

selamat hari minggu Tuhan Yesus memberkati kita semua.



Eddy L.

Jumat, 02 Maret 2012

"SAAT KENYATAAN TAK SESUAI IMPIAN"


Guys....

Mungkin saat ini di antara kita ada

yang tengah berada dalam "penjara

kesulitan". Dan kesempatan yang
dimiliki terasa begitu kecil.

Guys.....


Jangan berkecil hati... Jangan menyerah...

Teruslah berusaha...!


Lakukan apa yang bisa dilakukan,
sebaik-baiknya, dan sebenar-benarnya.


Ingatlah bahwa...

KESEMPATAN SEKECIL APAPUN

ITU MENUNJUKKAN MASIH

ADANYA HARAPAN!


Di bawah adalah artikel yang kedua stelah postingan pertama" MEMINIMALKAN KEKUATIRAN DENGAN MEMAKSIMALKAN KEYAKINAN', yaitu:

"Apa Yang Harus Dilakukan Saat Kenyataan

Tidak Sesuai Dengan Impian?"

Selamat membaca, semoga bermanfaat! :-)

Sahabatmu,

EDDY LUTANG

http://eddynitha.blogspot.com/


---------------------------

Artikel Utama:

---------------------------

Saat Kenyataan Tak Sesuai Impian...

Ditulis oleh: Eddy Lutang


Guys,


Banyak orang yang merasa frustasi karena kenyataan mereka tidak sesuai dengan impian.

Sebagai contoh, ada seorang anak mudag yang ingin kuliah di Universitas A, tapi nyatanya biaya tidak mencukupi.

Atau, mereka yg merantau ke kota besar, bermimpi ingin mendapatkan pekerjaan berkelas nasional bahkan nternasional,

tapi nyatanya yang didapatkan hanyalah pekerjaan biasa-biasa saja & apa adanya.


Ada juga seorang pengusaha, yg mungkin mengharapkan kenaikan profit 10 kali, malah mengalami kebangkrutan.

Apa yang kita harapkan, kadang memang tidak sesuai dengan kenyataan. Lalu apa yang harus kita lakukan?


Berikut adalah 3 langkah atau tips yang

bisa teman2 lakukan saat mimpi tidak

sesuai dengan kenyataan:


1. Bertindaklah selalu secara fleksibel

dan dinamis


Jika teman2 betul-betul ingin menggapai kesuksesan, maka diperlukan"Kesiapan" untuk bisa bertindak secara fleksible

dan dinamis terhadap setiap perubahan yang terjadi.


Sebuah analogi sederhana...


Saat ada badai atau angin topan yang besar, tidak jarang kita melihat pohon yang memiliki batang yang sangat besar

tumbang! Apa sebab? Sebab mereka tidak kuat menahan beban yang diterima.


coba kita melihat pohon bambu! Karena batangnya yang lentur, maka bambu bisa fleksibel bergerak ke segala arah, dan

jarang tumbang!


Nah, begitu pun dengan kita! Jika kita bertindak dan berpikir dinamis dan juga fleksibel, maka kita akan lebih tahan

dalam menghadapi tantangan dan perubahan serta masalah yang datang.


2. Berpikirlah bahwa INILAH yang terbaik

untuk kita!



Saat kenyataan tidak sesuai dengan impian, percayalah bahwa inilah yang terbaik untuk kita. Kita tidak pernah tahu skenario yang telah ditetapkan-Nya.

Karena, segala sesuatu yang menurut logika kita baik, bisa jadi justru sebaliknya di mata Tuhan!


Berpikirlah selalu positif atas apapun yang terjadi pada diri kita. Jangan biarkan satu kegagalan membuat kita

kecewa, apalagi sampai frustasi dan berlarut-larut.


Kita tahu apa yang seharusnya kita lakukan jika ada satu mimpi atau keinginan kita tidak kesampaian? saya biasa mengatakan:


"Sudahlah sobat, kamu tdk perlu kecewa, don't ask me why, it is GOOD for you!

Sekarang kamu dengarkan baik-baik, Tuhan akan menggantinya dengan YANG LEBIH BAIK! Tuhan tau kamu orang yg baik & bijaksana. Hidupmu penuh dengan kelimpahan, dan kamu memang dilahirkan utk slalu jadi pemenang!"



Saya biasa mengatakannya di depan cermin dengan penuh keyakinan, tentunya saat saya sendirian! hehe... It works for me! :-) sahabat juga bisa coba nanti ;-)


Apa yang saya lakukan di atas itu adalah 'afirmasi'.


Afirmasi adalah kata-kata positif yang diucapkan berulang-ulang & diyakini untuk membentuk citra postif untuk mengurangi sikap-sikap negatif dalam diri kita. Kata-kata afirmasi ini bisa kita buat/rancang sendiri, dan lalu bisa diucapkan secara verbal atau dalam hati. Menurut ahli Hynotherapy, afirmasi itu akan 'terekam' oleh alam bawah sadar kita.


Dan jika terus-menerus diucapkan & dengan penuh keyakinan, maka kita SEDANG atau AKAN menjadi seperti itu adanya, yang kita ucapkan! Dengan kata lain, afirmasi itu sama seperti DO'A. Okay, sekarang selanjutnya! :-)


Meski saat ini apa yang kita harapkan belum sesuai dengan impian, namun kita harus....


3. Tetap Siapkan MENTAL PEMENANG!


Saat kita mengalami kegagalan, lebih baik instropeksi diri daripada menyalahkan takdir. Siapa tahu, kita memang belum siap jadi pemenang! :-)

Bisa jadi kesuksesan hanya akan membuat kita menjadi sombong, dan karena saking sayangnya Tuhan kepada kita, Ia tidak mau hamba-Nya berbuat dosa. :-)


Guys, setiap kemenangan itu lebih baik dirintis dari setiap peluh kita! Akan lebih baik jika kemenangan itu kita dapatkan setahap demi setahap.Banyak orang sukses, tapi kemudian mereka terjatuh. Ada yang bangkit lagi, ada yang tidak. Liku hidup setiap manusia memang tidak sama. Tapi ingat, kesempatan untuk menang itu selalu terbuka bagi siapa saja,

tanpa terkecuali!


Berkati dan kemenangan itu sungguh tidak terkira banyaknya dari Tuhan, ibaratnya masih banyak yang menggantung di langit! :-)Sekarang tinggal bagaimana cara kita! Apakah mau meraihnya? atau mengharapkan turun dengan sendirinya?


Saya sarankan, jangan pernah memilih yang kedua dalam arti mengharapkan turun dengan sendirinya :-)


Kita semua tahu bahwa yang namanya kemenangan itu seringkali dimiliki oleh mereka yang...TIDAK PERNAH BERENTI BERUSAHA.



Soo..... Tetaplah terus berusaha dan yakinilah kalau anda bisa melakukannya. Tuhan menyertai saudara dan saya.



Home alone


Eddy Lutang

Sabtu, 24 Desember 2011

Halal dan Haram


HARAM VS HALAL (NAJIS DAN TAHIR)


* Imamat 5:3,
"Atau apabila ia kena kepada kenajisan berasal dari manusia, dengan kenajisan apapun juga ia menjadi najis, tanpa menyadari hal itu, tetapi kemudian ia mengetahuinya, maka ia bersalah."
'O {atau} KHI {karena} YIQA' {ia menyentuh} BETUM'AT {kepada kekotoran} 'ADAM {manusia} LEKHOL {untuk segala sesuatu} TUM'ATO {kekotorannya} 'ASYER {yang} YITMA' {akan menjadi kotor} BAH {kepadanya} VENE'ELAM {dan disembunyikan} MIMENU {darinya} VEHU' {dan ia} YADA' {mengetahui} VE'ASYEM {dan ia bersalah}


* Matius 23:27,
"Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran."
ouai {celakalah} humin {kalian} grammateis {wahai ahli-ahli Taurat} kai {dan} pharisaioi {wahai orang-orang Farisi} hupokritai {wahai orang-orang munafik} hoti {bahwa} paromoiazete {kalian menjadi seperti} taphois {kuburan} kekoniamenois {sudah diputihkan} hoitines {yang} exôthen {sebelah luar} men {sesungguhnya} phainontai {mereka kelihatan} hôraioi {cantik} esôthen {di dalamnya} de {tetapi} gemousin {mereka penuh} osteôn {tulang-tulang} nekrôn {orang-orang mati} kai {dan} pasês {setiap} akatharsias {yang tidak bersih, kekotoran}


Kata Ibrani tum'a (kekotoran) muncul 26 kali, sedang kata sifat tamé (kotor) 72 kali. Kata-kata lain jarang muncul. Kata Yunani akatharsia (kekotoran) dan akathartos (kotor) muncul 41 kali. Kata-kata lain juga jarang muncul. Bersih, kotor, najis, tahir, haram dan halal semuanya dipakai untuk mengungkapkan konsep itu dalam hubungan yang bermacam-macam. Dalam kata-kata Alkitab untuk bersih, pemakaiannya secara jasmani, ritual dan etis adalah saling tindih.



I. Kebersihan sangat dihargai


Kebersihan jasmani sangat dihargai dan diterapkan di negeri-negeri yang disebut dalam Alkitab. Herodotus menyatakan bahwa imam-imam di Mesir mandi dua kali tiap hari, dan dua kali tiap malam. Di Israel kebersihan jasmani membuat orang siap menghadap hadirat Allah, jika motifnya layak. Pada sedini zaman Nuh pembedaan antara bersih dan kotor (halal dan haram) telah diindahkan.


* Kejadian 7:2,
"Dari segala binatang yang tidak haram haruslah kau ambil tujuh pasang, jantan dan betinanya, tetapi dari binatang yang haram satu pasang, jantan dan betinanya".
MIKOL {dari segala} HABEHEMAH {ternak itu} HATEHORAH {yang tahir} TIQAKH-LEKHA {engkau harus mengambilnya} SYIV'AH {tujuh} SYIV'AH {tujuh} 'ISY {jantan} VE'ISYTO {dan betinanya} UMIN-HABEHEMAH {dan dari ternak itu} 'ASYER {yang} LO' {tidak} TEHORAH {tahir} HI' {ia} SYNAYIM {dua} 'ISY {jantan} VE'ISYTO {dan betinanya}

Petunjuk dalam Kitab Kejadian ihwal binatang yang halal dan haram ini menentukan apakah binatang-binatang ini boleh dikorbankan atau tidak.


* Kejadian 9:3,
"Segala yang bergerak, yang hidup, akan menjadi makananmu. Aku telah memberikan semuanya itu kepadamu seperti juga tumbuh-tumbuhan hijau."
KOL-REMES {semua yang bergerak} 'ASYER {yang} HU'-KHAY {ia hidup} LAKHEM {bagi kalian} YIHYEH {menjadi} LE'OKHLAH {sebagai daging [makanan]} KEYEREQ {bahkan yang hijau} 'ESEV {tumbuh-tumbuhan} NATATI {Aku memberikan} LAKHEM {kepada kalian} 'ET-KOL {semuanya}

Ayat di atas jelas menyatakan bahwa "segala yang bergerak, yang hidup, akan menjadi makananmu." Peraturan Imamat 11 dan Ulangan 14 membuat pembedaan sebagai asas bagi hukum makanan.


* Imamat 11:46-47,
"Itulah hukum tentang binatang berkaki empat, burung-burung dan segala makhluk hidup yang bergerak di dalam air dan segala makhluk yang mengeriap di atas bumi, yakni untuk membedakan antara yang najis dengan yang tahir, antara binatang yang boleh dimakan dengan binatang yang tidak boleh dimakan."
ZOT {inilah} TORAT {hukum} HABEHEMAH {ternak itu} VEHA'OF {dan unggas itu} VEKHOL {dan segala} NEFESY {makhluk} HAKHAYAH {yang hidup} HAROMESET {yang bergerak} BAMAYIM {di air} ULEKHOL-NEFESY {dan untuk segala makhluk} HASYORETSET {yang merayap} 'AL-HA'ARRTS {di atas bumi itu} LEHAVDIL {untuk membedakan} BEYN {antara} HATAME' {yang najis, haram} UVEYN {dan antara} HATAHOR {yang tahir, halal} UVEYN {dan antara} HAKHAYAH {binatang} HANE'EKHELET {yang boleh dimakan} UVEYN {dan antara} HAKHAYAH {binatang} 'ASYER {yang} LO' {tidak} TE'AKHEL {boleh dimakan}



II. Pada zaman paling kuno


Pada zaman Bapak leluhur dan zaman kerajaan Israel pembedaan itu sudah ada. Bandingkan Kejadian 31:35 (mengenai Rahel dengan ilah-ilah keluarga bapaknya, Laban) dan 1 Samuel 20:26 (ketidakhadiran Daud pada meja raja Saul). Sayang, bahwa beberapa ahli sering salah mengerti akan pentingnya pembedaan ini, karena mereka menghubungkan semua peraturan Perjanjian Lama dari kelompok ini, untuk menduga adanya larangan-larangan yang bersifat takhayul.



III. Zaman para nabi


Para nabi -- norma-norma etikanya yang tinggi dikagumi oleh setiap orang - juga berbicara tentang yang haram. Yesaya, dalam wahyunya mengenai zaman kebenaran yang akan datang, memberitakan bahwa jalan kudus tidak akan dilintasi oleh orang yang tidak tahir (Yesaya 35:8). Lagipula ia menghimbau Yerusalem supaya siaga akan kekuatannya, sebab tidak seorang pun yang tak bersunat atau yang najis akan masuk ke dalamnya pada masa kemuliaannya (Yesaya 52:1). Selanjutnya nabi pembawa kabar baik itu memohon kepada yang melakukan pelayanan kudus untuk menghindari hal yang najis, dan supaya menyucikan diri ketika mengangkat perkakas rumah Tuhan (Yesaya 52:11). Hosea, nabi Allah yang kasih-Nya dipatahkan, memperingatkan bangsanya bahwa kerajaan utara bukan hanya akan kembali ke Mesir, tapi juga akan makan makanan najis di Asyur (Hosea 9:3). Amos, pejuang bagi kebenaran Allah yang tiada taranya, menubuatkan sebagai jawaban atas kekerasan yang akan memberangus pemberitaannya, bahwa Amazia dari Betel akan mengalami perbuatan tangan Allah yang berat atasnya dalam keluarganya yang terdekat, dan ia sendiri akan mati di tanah yang najis (Amos 7:17). Yehezkiel imam itu dengan bermacam cara mengungkapkan kejijikannya akan pengotoran bangsanya, dan kemualannya sendiri terhadap caranya ia dipanggil untuk melukiskan kenajisan bangsanya itu secara dramatis di hadapan mereka (Yesaya 4:14).


IV. Hukum Taurat Musa


Hukum Taurat mengadakan perbedaan yang jelas antara yang bersih dan yang kotor, antara yang kudus dan yang tidak kudus, antara yang najis dan yang tidak najis (Imamat 10:10). Yang tidak kudus pertama-tama ialah penajisan seremonial, bukan secara moral, kecuali jika dilakukan dengan sengaja. Siapa yang najis tidak boleh melayani di tempat suci dan tidak boleh bersekutu dengan teman seagama. Penajisan seremonial itu dapat dilakukan dengan bermacam cara, dan untuk itu diadakan sarana-sarana bagi pentahirannya.

1. Menyentuh mayat menyebabkan orang najis (Bilangan 19:11-22). Menurut peraturan Perjanjian Lama, tercemar karena menyentuh mayat manusia termasuk yang paling buruk. Barangkali bagi umat Allah mayat melambangkan kegawatan yang paling parah dan konsekuensi yang paling berat dari dosa.

2. Penyakit kusta, baik pada manusia maupun pada pakaian atau pada rumah, mencemarkan (Imamat 13; 14).

3. Mengeluarkan lelehan (yang dihubungkan dengan fungsi melahirkan), baik yang biasa maupun yang tidak, menajiskan orang Israel (Imamat 12; 15).

4. Makan daging burung, ikan atau binatang yang haram menajiskan orang. Imamat 11 dan Ulangan 14 memuat daftar yang diperluas dari apa yang halal dan yang haram. Binatang-binatang pemangsa binatang dipandang haram, karena binatang-binatang itu makan darah dan daging korbannya. Burung-burung yang haram sebagian besar termasuk burung-burung yang memangsa atau burung-burung yang makan bangkai. Ikan tanpa sisip dan sisik juga haram. Dikatakan, bahwa binatang yang kelihatannya seperti ular menyebabkan binatang itu dilarang, tapi larangan ini bijaksana menurut ilmu kesehatan, karena ikan-ikan kerang-kerangan dapat menyebabkan racun-darah dan penyakit lain. Makan daging yang telah disayat-sayat atau yang disembelih dengan sadis menjadi sumber kenajisan (Keluaran 22:31; Imamat 17:15; Kisah Para Rasul 15:20, 29). Makan darah dilarang sejak zaman paling kuno (Kejadian 9:4).

5. Cacat tubuh dipandang sebagai kenajisan dalam efeknya, sehingga penyandang terlarang menghampiri mezbah. Peraturannya diberikan khusus bagi putra-putri Harun, para imam yang melayani di dalam tempat suci (Imamat 21:16-24). Akhirnya, pembunuhan yang tak dihukum (Ulangan 21:1-9) dan khususnya penyembahan berhala (Hosea 6:20) menjadikan tanah itu najis. Pembunuhan itu menghantam gambar Allah (Kejadian 9:6), sedang penyembahan berhala ialah pelanggaran terhadap kebaktian rohani yang wajib dipersembahkan hanya kepada Allah (Keluaran 20:4).


V. Zaman setelah pembuangan


Para ahli Taurat pada zaman setelah pembuangan dan para Farisi zaman Perjanjian Baru memperluas dan mempertajam perbedaan antara yang najis dan yang tidak najis dengan ketentuan-ketentuan yang mereka buat dan tambahkan sendiri (Markus 7:2, 4). Suatu sistem yang diperluas dan yang sangat memberatkan diperkembangkan dari peraturan-peraturan yang ada. Umpamanya: sebuah kitab kanonik menyatakan tanda-tangan adalah najis, tapi sebuah kitab non-kanonik tidak menyatakan demikian. Bagian terbesar dari keenam bagian Misyna membicarakan hal pentahiran. Peraturan-peraturan yang dilipatgandakan itu membenarkan pernyataan Yesus yang demikian: "Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadatmu sendiri" (Markus 7:9).


VI. Keharusan dan bentuk pentahiran


Israel harus kudus (Imamat 11:44, 45) dan terpisah dari segala yang najis. Kenajisan seremonial memberitakan dosa. Kebersihan tubuh dituntut dalam masyarakat mereka. Hukum-hukum yang mengenai kebersihan diikuti oleh orang yang setia dalam menghampiri allah. Orang yang bersihlah yang dapat menghampiri Allah dalam kebaktian. Dalam pemakaian keagamaan "yang bersih" (suci, halal) menunjuk kepada apa yang tidak mencemarkan seremonial. Istilah itu digunakan bagi binatang-binatang (Kejadian 7:2), tempat (Imamat 4:12), barang-barang (Yesaya 66:20) atau orang-orang yang secara ritual tidak dicemarkan (1 Samuel 20:26, Yehezkiel 36:25). Kebersihan secara etis atau kemurnian disebut dalam Mazmur 19:9; 51:7, 10. Suatu pemakaian yang jarang digunakan dalam arti "tanpa cela" atau "tanpa kesalahan" terdapat di Kisah Para Rasul 18:6.

Cara pentahiran yang biasa dilakukan ialah mandi dan mencuci pakaian (Imamat 15:8, 10-11). Pentahiran dari kenajisan akibat lelehan menurut cara khusus (Imamat 15:9), juga kelahiran anak (Imamat 12:2, 8; Lukas 2:24), penyakit kusta (Imamat 14), menyentuh mayat (Bilangan 19; bagi seorang Nazar, Bilangan 6:9-12). Pentahiran dapat bersifat ragawi (Yeremia 4:11; Matius 8:3); ritual, dengan suatu korban karena dosa (Keluaran 29:36), untuk menebus dosa (Bilangan 35:33), untuk meniadakan kecemaran seremonial (Imamat 12:7; Markus 1:44); etis, baik oleh pembersihan manusia dari kecemaran dosanya (Mazmur 119:9; Yakobus 4:8), atau oleh pembersihan Allah dari kesalahannya (Yehezkiel 24:13; Yohanes 15:2). Pembersihan secara ritual dilakukan dengan air, api, atau abu atau anak lembu merah. Mazmur 51:9 memakai bentuk seremonial menjadi gambar dari yang etis atau yang rohani. Daud berdoa, "Bersihkanlah aku daripada dosaku dengan hisop, maka aku akan menjadi tahir, basuhlah aku maka aku menjadi lebih putih dari salju".


VII. Pandangan Perjanjian Baru


Dalam ajaran-Nya, Kristus lebih menekankan kemurnian moral daripada seremonial (Markus 7:1-23). Tuduhan-Nya yang terkeras ditujukan terhadap mereka yang menganggap hal-hal yang ritual dan yang lahiriah lebih tinggi daripada hal-hal yang moral dan etis. Yang penting bukanlah seremonial, melainkan moral, pencemaran.

Jika kita sungguh-sungguh membaca ayat-ayat tertentu Perjanjian Baru, kita diberitahu tentang kebiasaan orang Yahudi mengenai pembersihan dan pencemaran. Markus 7:3-4 menyajikan pernyataan ringkas tentang peraturan pembasuhan tangan, pencemaran yang terjadi di pasar, dan penyucian perkakas-perkakas. Yohanes 2:6 menyinggung cara membasuh diri jika hendak memasuki sebuah rumah, dan Yohanes 3:25 menunjukkan bahwa hal penyucian menimbulkan perdebatan. Peraturan-peraturan yang ketat menguasai penyucian bagi hari raya Paskah; ini semua disinggung pada Yohanes 11:55 dan 18:28. Penderita kusta yang ditahirkan harus melaksanakan korban tahirannya, yang dituntut oleh Taurat Musa (Markus 1:44). Untuk meniadakan penentangan dan untuk memperoleh penerimaan yang lebih baik terhadap berita yang dibawanya, Paulus melakukan upacara penyucian di Bait Suci Yerusalem (Kisah Para Rasul 21:26). Tindakan yang menimbulkan teka-teki itu harus dinilai dalam terang gagasannya "bagi semua orang menjadi segala-galanya" -- artinya hidup sebagai Yahudi di antara orang Yahudi -- "karena Injil" (1 Korintus 9:22). Peristiwa ini tidak mengubah kebenaran bahwa Kristus telah mencabut segala peraturan imamat mengenai makanan dan praktek-praktek yang najis (Matius 15:1-20 dan Markus 7:6-23), dalam terang mana Petrus diperintahkan supaya berbuat (Kisah Para Rasul 10:13 dan ayat berikutnya), dan Paulus mengumumkan dengan resmi peraturan tentang tingkah laku kristiani (Roma 14:14, 20; 1 Korintus 6:13; Kolose 2:16, 20-22; Titus 1:15). Ibrani 3:19 dan seterusnya menitikberatkan bahwa satu-satunya kenajisan yang berarti penting secara agamawi ialah kenajisan hati nurani. Obatnya adalah korban Kristus, yang dipersembahkan dalam dunia kerohanian.

Seperti diharapkan, Injil-injil paling banyak berbicara tentang pembedaan antara yang tahir dan yang najis. Pentahiran dalam Injil-injil dibicarakan di bawah bermacam-macam kategori. Pentahiran itu dilihat dalam hubungannya dengan penyakit kusta (Matius 8:2; Markus 1:44; Lukas 5:14; 17:11-19). Kata yang dipakai dalam hubungan ini ialah 'katharizein', tapi Lukas 17:15 (yaitu kejadian mengenai 10 penderita kusta) memakai kata iasqai-iasthai (menyembuhkan). Pentahiran penderita kusta itu terdiri dari dua bagian: (a) upacara dengan dua ekor burung (Imamat 14) dan (b) upacara yang dilakukan delapan hari kemudian. Mengenai makanan ada upacara pembasuhan tangan (Matius 15:1-20; Markus 7:1-23; Yohanes 2:6; 3:25). Seperti yang ditunjukkan di atas, ada pentahiran sehubungan dengan Paskah (Yohanes 11:55; 18:28). Semua ragi harus benar-benar disingkirkan dari rumah (Keluaran 12:15; 19-20; 13:7). Akhirnya, setelah bayi lahir satu korban harus dipersembahkan pada akhir masa kenajisan, yaitu 40 hari bagi anak laki-laki dan 80 hari bagi anak perempuan (Lukas 2:22).


VIII. Kesimpulan


Ada yang menduga bahwa hukum-hukum yang mengatur pentahiran dan kenajisan itu bukan sekedar berakibat merintangi hubungan sosial dan keagamaan dengan non-Yahudi, khususnya dalam hal makanan, tapi pada asasnya diberikan untuk tujuan ini. Moore berpendapat tidak ada bukti baik internal maupun eksternal untuk mendukung hal ini. Penalarannya demikian: "Semuanya itu mewujudkan kebiasaan-kebiasaan kuno, yang asal dan alasannya telah lama dilupakan. Beberapa di antaranya didapat di antara orang-orang Sem, atau lebih luas lagi; beberapa, sepanjang kita ketahui, bersifat khusus Israel; tapi sebagai keseluruhan atau kita boleh mengatakan, sebagai suatu sistem, semuanya itu mewujudkan kebiasaan-kebiasaan khusus yang telah diwarisi oleh orang Yahudi dari nenek moyang mereka dengan sanksi keagamaan dalam dua kategori tentang yang kudus dan yang najis atau cemar. Bangsa-bangsa lainnya memiliki kebiasaan mereka sendiri, ada yang untuk semua golongan, ada lagi, seperti yang terdapat pada orang Yahudi, khusus untuk para imam. Sistem ini juga bersifat khusus."

Dalam diskusi mengenai aturan-aturan yang jauh jangkauannya, yang membedakan antara yang kudus dan yang najis atau antara yang halal dan yang haram di antara binatang-binatang, burung-burung dan ikan-ikan, ada bermacam-macam penalaran yang diberikan bagi hukum-hukum itu. Alasan tradisional dan yang paling kentara ialah penalaran yang religius atau rohani: "Haruslah kamu menjadi orang-orang kudus bagi-Ku" (Keluaran 22:31).

Suatu keterangan yang lain ialah keterangan yang dikaitkan dengan kesehatan, yang diberikan oleh Maimonides, filsuf besar Yahudi dari Abad Pertengahan di Spanyol dan oleh ahli-ahli terkemuka lainnya. Alasannya ialah bahwa ikan yang tanpa sisik dan babi menyebabkan penyakit. Pendapat ini didukung oleh riset modern. Suatu keterangan lain lagi ialah yang bersifat psikologis. Binatang-binatang yang dilarang itu nampak menjijikkan atau menyebabkan jiwa yang kejam pada mereka yang memakannya. Alasan keempat ialah yang bersifat dualistis. Orang Israel, sama halnya dengan orang-orang Persia, dikatakan sebagai menganggap segala binatang yang najis berasal dari kuasa jahat. Suatu keterangan lain bersifat kebangsaan, beranggapan bahwa orang Israel dikelilingi oleh begitu banyak larangan agar mereka terpisah dari semua bangsa lainnya. Para penentang pendapat ini menunjukkan, bahwa binatang-binatang yang dilarang dalam hukum Musa sebenarnya sama dengan binatang-binatang yang didalam dalam agama Hindu, Babel dan Mesir.

Teori paling populer di kalangan juru kritik ialah yang dikemukakan oleh W. Robertson Smith ("The Religion of the Semites"). Köhler meringkaskannya: "Mengingat bahwa hampir tiap suku bersahaja menganggap binatang-binatang tertentu terlarang, maka diduga bahwa binatang-binatang yang terlarang atau ditabukan itu semula dipandang dan disembah sebagai totem marga. Tapi kenyataan yang dikemukakan itu tidak cukup mendukung teorinya, khususnya mengenai orang-orang Sem. Justru teori itu tidak lebih dari dugaan orang licik...." Jika bahan-bahan Alkitab diberi wibawa yang biasa, maka keterangan-keterangan yang bersifat rohani dan kesehatan itulah yang benar. [ðððð]


Sumber: Ensiklopedi Alkitab Masa Kini
Disalin dari : Milis Biblika

Jumat, 23 Desember 2011

“Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.”



BABI SUDAH MENJADI HALAL... BENARKAH...?

Tuhan menyatakan tentang nasib orang-orang yang makan babi dan binatang jijik lainnya di akhir zaman:

Pada zaman nabi Yesaya, Tuhan berfirman tentang apa yang terjadi saat kedatangannya di akhir zaman. Yesaya 66:15-17 berkata : “Sebab sesungguhnya, TUHAN akan datang dengan api, dan kereta-kereta-Nya akan seperti puting beliung, untuk melampiaskan murka-Nya dengan kepanasan dan hardik-Nya dengan nyala api. Sebab TUHAN akan menghukum segala yang hidup dengan api dan dengan pedang-Nya, dan orang-orang yang mati terbunuh oleh TUHAN akan banyak jumlahnya. Mereka yang menguduskan dan mentahirkan dirinya untuk taman-taman dewa, dengan mengikuti seseorang yang ada di tengah-tengahnya, yang memakan daging babi dan binatang-binatang jijik serta tikus, mereka semuanya akan lenyap sekaligus, demikianlah Firman Tuhan.”
Kepada bangsa manakah, Firman Tuhan ini ditujukan ? Pada ayat selanjutnya, Yes. 66:18 mengatakan : “Aku mengenal segala perbuatan dan rancangan mereka, dan Aku datang untuk mengumpulkan segala bangsa dari semua bahasa, dan mereka itu akan datang dan melihat kemuliaan-Ku.” Jelas bahwa ayat ini ditujukan kepada semua bangsa dan semua bahasa, bukan hanya bagi bangsa Israel.
Jadi, kita sedang menunggu suatu saat di akhir zaman, saat dimana Tuhan akan melampiaskan kemarahanNya bagi mereka-mareka yang melanggar pantangan yang Dia sudah nyatakan.
Ada banyak orang yang menganggap bahwa ayat tersebut sudah usang, karena terdapat dalam Kitab Perjanjian Lama. Untuk menanggapi alasan mereka, maka harus dimengerti dahulu tentang istilah “Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.”
Istilah “Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru “
Dalam 2 Korintus 3:12-16, Paulus mengatakan : “Karena kami mempunyai pengharapan yang demikian, maka kami bertindak dengan penuh keberanian tidak seperti Musa, yang menyelubungi mukanya, supaya mata orang-orang Israel jangan melihat hilangnya cahaya yang sementara itu.Tetapi pikiran mereka telah menjadi tumpul, sebab sampai pada hari ini selubung itu masih tetap menyelubungi mereka, jika mereka membaca perjanjian lama itu tanpa disingkapkan, karena hanya KRISTUS saja yang dapat menyingkapkannya. Bahkan sampai pada hari ini, setiap kali mereka membaca kitab Musa, ada selubung yang menutupi hati mereka.Tetapi apabila hati seorang berbalik kepada Tuhan, maka selubung itu diambil dari padanya.”
Jelas bahwa, bukan berarti dengan datangnya Perjanjian Baru, maka tulisan-tulisan Perjanjian Lama telah berlalu, justru salah satu tujuan datangnya YESUS adalah untuk menyingkap/menjelaskan bacaan Perjanjian Lama. Kalau hati seseorang berbalik kepada Tuhan/ bertobat, ia tidak akan terselubung wajahnya seperti orang Israel pada saat sekarang, karena YESUS akan menjelaskan isi Perjanjian Lama itu.
Lukas 24:27 mencatat bahwa Kitab Perjanjian Lama yaitu Kitab Para Nabi adalah buku Kitab Suci pegangan YESUS : “Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.”
Demikian juga Paulus saat menginjil, Kisah Rasul-rasul 28:23: ” Lalu mereka menentukan suatu hari untuk Paulus. Pada hari yang ditentukan itu datanglah mereka dalam jumlah besar ke tempat tumpangannya. Ia menerangkan dan memberi kesaksian kepada mereka tentang Kerajaan Allah; dan berdasarkan hukum Musa dan kitab para nabi ia berusaha meyakinkan mereka tentang YESUS. Hal itu berlangsung dari pagi sampai sore.”
Gereja Kristen mula-mula pun menggunakan Kitab Suci yang disebut Kitab Musa dan para nabi. Kisah Rasul-rasul 15:21 mengatakan : “Sebab sejak zaman dahulu hukum Musa diberitakan di tiap-tiap kota, dan sampai sekarang hukum itu dibacakan tiap-tiap hari Sabat di rumah-rumah ibadat ". Paulus masuk ibadah hari Sabat di Antiokia dan di sana juga dibacakan Kitab Taurat dan Para nabi(Kis.13:15).
Yang disebut zaman Perjanjian Baru adalah zaman dimana YESUS mulai membentuk kelompok pengikut yang akan menjadi umat Kristen mula-mula. Bukan berarti bahwa zaman itu mereka tidak memakai Kitab Perjanjian Lama, sebab telah jelas diatas bahwa YESUS dan Paulus menggunakan Kitab suci Perjanjian Lama(Kitab Musa dan Para Nabi). Bukankah saat itu buku Kitab Perjanjian Baru belum ada, karena buku tersebut merupakan riwayat kisah kehidupan YESUS dan Paulus dalam menginjil dan menulis surat-surat untuk jemaat-jemaat Kristen mula-mula…Jadi, setelah YESUS naik ke surge dan Paulus meninggal barulah kisah yang terdapat dalam Kitab Perjanjian Baru selesai ditulis. HampIr 100 tahun kemudian barulah Kitab Perjanjian Baru diterbitkan. Umat Kristen sesudah penerbitan Kitab tersebutlah yang kemudian mulai menggunakan kedua Kitab Perjanjian ini.
Dalam Alkitab, istilah Perjanjian Lama muncul dan ada penjelasannya dalam Kitab Perjanjian Baru(1 Kor.3: 12-16), sedangkan Istilah Perjanjian Baru muncul pertama kali sebaliknya, yakni dalam Kitab Perjanjian Lama, Yermia 31:31-33 : “Sesungguhnya, akan datang waktunya, demikianlah Firman Tuhan, Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan kaum Yehuda, bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka pada waktu Aku memegang tangan mereka untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir; perjanjian-Ku itu telah mereka ingkari, meskipun Aku menjadi tuan yang berkuasa atas mereka, demikianlah Firman Tuhan. Tetapi beginilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu, demikianlah Firman Tuhan: “Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku.”
Jelas, bahwa dengan datangnya Perjanjian Baru, Taurat yang tadinya dalam Perjanjian Lama hanya dalam bentuk loh batu, tetapi dalam Perjanjian Baru Tuhan masukkan dalam dalam loh-loh hati manusia seperti yang ditegaskan oleh 2 Kor. 3:3 : ” Karena telah ternyata, bahwa kamu adalah surat KRISTUS, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia.”
Jadi, apakah perbedaan utama antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru? Dalam Perjanjian Lama,Taurat tertulis pada loh-loh batu(dalam Perjanjian Lama), tetapi dalam Perjanjian Baru, tertulis dalam loh-loh hati dan diungkapkan dalam sikap moral sehari-hari sehingga terbaca oleh orang lain sebagai surat KRISTUS.
Artinya, bahwa hukum Taurat memang tidak ditiadakan dalam zaman Perjanjian Baru. Dan YESUS memang menyatakan tidak datang untuk meniadakannya (Mat.5:17). YESUS datang justru untuk membebaskan manusia dari dosa. Dosa adalah pelanggaran akan hukum Allah(1 Yoh. 3:4). Jadi YESUS datang untuk membuat manusia bebas dari pelanggaran terhadap hukum Allah, mereka menjadi orang-orang yang hidup baru, yang hidup menurut hukum Allah. YESUS datang bukan hanya untuk orang Israel tetapi untuk semua manusia di muka bumi ini. Ia meminta semua manusia untuk bertobat.
Sebuah pengalaman YESUS sehubungan dengan “babi” dan permintaan setan.
Sehubungan dengan misiNya di dunia ini sebagai manusia, apakah yang pernah dilakukan YESUS sehubungan dengan binatang yang bernama “babi“?
Mat.8:28-33 menceritakan bahwa YESUS mengusir setan-setan yang merasuk dalam tubuh seseorang yang disembuhkanNya di Gadara saat itu. Setan-setan yang keluar dari tubuh orang ini meminta YESUS agar diperintahkan berpindah ke tubuh sekelompok babi piaraan yang ada di dekat mereka. YESUS kemudian memerintahkan mereka untuk berpindah ke tubuh babi-babi itu. Akhirnya, setan-setan itu membuat babi-babi tersebut meloncat ke danau sehingga mati tenggelam.
Apa makna yang terkandung dalam cerita ini? Apakah YESUS memang memiliki sikap yang begitu jahat sehingga membuat mata pencaharian si pemilik babi-babi tersebut hilang atau membuat mereka menjadi rugi? Tentu saja tidak! YESUS mengasihi manusia. Karena YESUS datang membawa misi pertobatan bagi manusia. Sudah tentu ada makna dibalik tindakan YESUS sehubungan dengan pertobatan manusia. Sudah pasti, YESUS tidak akan melakukan tindakan yang merugikan orang. Maknanya disini tentu bahwa YESUS tidak menganggap babi adalah makanan manusia. Kalau memang babi adalah binatang yang dihalalkan atau diizinkan YESUS untuk dimakan, tentu Ia tidak akan mengizinkan setan-setan itu memusnahkan binatang peliharaan orang, sehingga merugikan si pemilik babi tersebut. Bagaimanapun juga, Alkitab mencatat bahwa ada dua jenis binatang yang pernah menjadi tujuan setan untuk masuk dan tinggal yaitu ular, waktu menggoda Hawa, dan babi saat di Gadara.
Pengalaman Petrus dengan binatang haram
Kisah Rasul-rasul 10:1-48 mengisahkan tentang peristiwa Petrus yang mendapatkan penglihatan seolah-olah Ia disuruh Tuhan untuk makan binatang yang haram/tidak tahir. Saat itu Petrus menjawab : ”Tidak Tuhan, tidak, sebab aku belum pernah makan sesuatu yang haram dan yang tidak tahir.”(ayat 14) Kita perhatikan bahwa hingga saat itu (ingat! YESUS sudah naik ke surga), Petrus masih mempunyai pengertian tentang pembedaan mana yang halal dan mana yang haram! Tentu saja karena Petrus adalah murid YESUS, kita yakin bahwa semua ajaran YESUS telah diketahuinya. Kalau saja peristiwa kematian YESUS telah membolehkan manusia untuk makan yang haram, maka Petrus akan makan binatang-binatang tersebut. Walaupun selanjutnya ada jawaban Tuhan yang menyatakan agar dia jangan haramkan apa yang dihalalkan Tuhan 3x, ternyata Petrus bukan langsung menjamah binatang-binatang tersebut. Tetapi berkas tersebut segera terangkat ke langit. Ia justru berpikir tentang apa arti penglihatan tersebut. Apakah memang benar merupakan pertanda bahwa boleh makan binatang yang tadinya adalah haram? Oh, bukan..Ternyata ada peristiwa selanjutnya yang memberikan pengertian baru baginya. Dalam Kisah 10:28 Paulus mengatakan: "Kamu tahu, betapa kerasnya larangan bagi seorang Yahudi untuk bergaul dengan orang-orang yang bukan Yahudi atau masuk ke rumah mereka. Tetapi Allah telah menunjukkan kepadaku, bahwa aku tidak boleh menyebut orang najis atau tidak tahir.” Selama ini Petrus merasa bahwa keselamatan hanya bagi orang Israel saja sedangkan bagi bangsa-bangsa lain diharamkan untuk selamat. Dengan penglihatan itu, ia diyakinkan bahwa bangsa-bangsa lain juga dihalalkan untuk memperoleh keselamatan. Dengan kesimpulan tersebut, Petrus disiapkan untuk mengajar seorang yang bernama Kornelius yang berasal dari bangsa non Israel. Dia juga dihalalkan untuk mendapat bagian keselamatan. Dengan demikian yang dimaksud dengan tulisan dalam Kisah 10 diatas, bukanlah pernyataan Tuhan tentang perubahan haram-halalnya binatang, tetapi tentang keselamatan bangsa-bangsa bukan Israel.
Kata-kata Paulus tentang makanan yang sering dijadikan dasar seolah-olah tidak ada istilah binatang haram lagi dalam zaman Perjanjian Baru dan pembahasannya.
- Kisah 15:19-21 : “Sebab itu aku berpendapat, bahwa kita tidak boleh menimbulkan kesulitan bagi mereka dari bangsa-bangsa lain yang berbalik kepada Allah, tetapi kita harus menulis surat kepada mereka, supaya mereka menjauhkan diri dari makanan yang telah dicemarkan berhala-berhala, dari percabulan, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari darah. Sebab sejak zaman dahulu hukum Musa diberitakan di tiap-tiap kota, dan sampai sekarang hukum itu dibacakan tiap-tiap hari Sabat di rumah-rumah ibadat."
Banyak orang menafsirkan kata-kata Paulus ini, seolah-olah Paulus member peluang untuk orang percaya dari bangsa non Yahudi untuk boleh makan haram dan yang tidak boleh hanya larangan makan makanan yang dipersembahkan pada berhala, percabulan dan makan binatang yang mati dicekik dan makan darah saja. Mereka tidak membaca apa persoalan pokok dalam Kisah 15. Kalau kita membaca fasal ini mulai ayat 1 samapi selesai, sebenarnya pokok utama pembicaraannya mengarah kepada keinginan orang percaya yang berasal dari Yahudi yang mengharuskan yang dari bangsa lain untuk melakukan sunat. Paulus menyatakan agar jangan memberikan kesulitan kepada mereka. Tapi yang harus dinyatakan kepada mereka yaitu tentang larangan makan makanan yang dipersembahkan kepada berhala, percabulan, makan daging binatang yang mati dicekik, darah dan percabulan, sebab hal-hal itu telah membudaya diantara mereka. Dan selanjutnya Paulus merujuk “alasannya/sebabnya” pada Hukum Musa yang tiap Sabat diberitakan sejak dulu sampai saat dimana Paulus menjalankan misi saat itu. Jadi peraturan jemaat yang menjadi dasar Paulus selalu merujuk kepada Hukum Taurat/Musa. Jadi, tidak ada pengertian yang menunjukkan seolah-olah Paulus membolehkan makan binatang haram, atau menghalalkan yang haram.

- Roma 14:2-3 : “Yang seorang yakin, bahwa ia boleh makan segala jenis makanan, tetapi orang yang lemah imannya hanya makan sayur-sayuran saja. Siapa yang makan, janganlah menghina orang yang tidak makan, dan siapa yang tidak makan, janganlah menghakimi orang yang makan, sebab Allah telah menerima orang itu.”
Arti kata “makanan” yang disebutkan baik oleh YESUS maupun Paulus sering dianggap sama dengan arti kata “makanan” yang dimengerti oleh kebanyakan orang saat ini. Padahal berbeda. YESUS dan Paulus selalu merujuk ajaran mereka kepada Kitab suci yang diajarkan oleh mereka, yaitu Kitab Taurat dan para nabi. Imamat 11 mengajarkan bahwa ada binatang haram yaitu yang tidak boleh dimakan , jadi artinya bukan makanan !! dan binatang halal yaitu binatang yang boleh dimakan artinya itu adalah makanan. Jadi, istilah “makanan” selalu berarti binatang yang halal. Kita tidak pernah mendapati bahwa YESUS pernah menyatakan semua binatang sudah menjadi halal. Jadi, Roma 14:2-3 tidak mengarahkan kita tentang boleh tidaknya makan binatang haram, tetapi mengarahkan kepada kita agar jangan menghakimi orang yang makan ataupun tidak makan makanan atau binatang halal atau hanya makan sayuran.
- 1 Kor.8:8 : "Makanan tidak membawa kita lebih dekat kepada Allah. Kita tidak rugi apa-apa, kalau tidak kita makan dan kita tidak untung apa-apa, kalau kita makan."
Ayat ini tidak mengarahakan kepada bolehnya seseorang makan binatang haram, tetapi menyatakan bahwa makanan/binatang halal apabila kita makan atau tidak tetaplah tidak membuat kita lebih dekat kepada Allah. Orang makan ayam(masuk binatang halal) atau pun tidak makan ayam tidak berpengarauh kepada keselamatan mereka.
- Kol.2:16: “Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman…….,”
Ayat diatas jelas tidak ada hubungannya dengan binatang haram, tapi berhubungan dengan makanan atau binatang halal. Jadi maksudnya, janganlah kita biarkan orang melarang kita makan binatang halal seperti daging domba atau kambing yang pada acara pengorbanan medzbah di kaabah zaman Israel ada peraturan larangan umat Israel untuk makan daging persembahan korban. Yang boleh makan saat itu adalah para imam saja.
Adakah ayat dalam Kitab Perjanjian Baru yang masih secara jelas menyatakan tentang larangan menjamah apa yang haram/najis atau tidak tahir?
Dalam 2Kor. 6:17 secara jelas Paulus menyatakan : “Sebab itu: Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, Firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu.”
Demikian ajaran Alkitab tentang makanan. Tuhan YESUS memberkati.

Kamis, 22 Desember 2011

APAKAH BABI SUDAH HALAL BAGI KRISTEN


IMAMAT 11:7

(LAI TB), Demikian juga babi hutan, karena memang berkuku belah, yaitu kukunya bersela panjang, tetapi tidak memamah biak; haram itu bagimu.

(KJV), And the swine, though he divide the hoof, and be cloven-footed, yet he cheweth not the cud; he is unclean to you.

Dalam Perjanjian Lama, kalau kita baca Imamat 11. Tercantum disana BINATANG HARAM DAN HALAL

Di dalam perjanjian lama babi termasuk binatang yang diharamkan begitu pun juga dengan jenis binatang-binatang lain yang juga di haramkan menurut perjanjian lama di dalam imamat 11.

Sekarang yang menjadi pertanyaan mengapa semua itu sekarang menjadi halal bagi kristen..?


Pada Perjanjian Baru Matius 15:11

LAI TB, Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang.

KJV, Not that which goeth into the mouth defileth a man; but that which cometh out of the mouth, this defileth a man.

Dengan demikian saya mau katakan bahwa semua makanan halal. ??


Apa iya..?? apakah ini bisa menjadi landasannya..??


Perlu kita garis bawahi disini antara ; ”makanan”, ”binatang haram”, dan ”binatang halal”.

analogi

Kalau kita seorang muslim ingin mengundang si fulan seorang kristen untuk mengadakan acara makan bersama, pada saat dimulai acara makan nya. Apakah si fulan yang kristen ini berfikir pasti ada babi di meja hidangan acara tersebut…? Tentu tidak kan!, karena yang mengundang adalah seorang muslim yang merujuk istilah makanan yang tidak sama dengan si fulan yang kristen tersebut. muslim merujuk ke Al-quran

Bagaimana dengan YESUS..?
Apa rujukan kitab suci yang Dia pakai..?

Perjanjian Baru adalah Kisah kehidupan YESUS, murid2Nya dan Paulus yang dibukukan sekitar tahun 200 M. YESUS pakai apa?

Matius 24:27 mengatakan: ” Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam SELURUH KITAB SUCI, mulai dari kitab kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.”

Jadi, seluruh Kitab Suci yang di gunakan oleh YESUS kan hanyalah KITAB MUSA DAN PARA NABI ! Alias Kitab Perjanjian Lama.

Sekarang kita lihat dalam Perjanjian Lama, kalau kita baca Imamat 11. Tercantum disana BINATANG HARAM DAN HALAL. BINATANG HALAL boleh dimakan, jadi disebut MAKANAN, BINATANG HARAM disebut tidak boleh dimakan, artinya itu BUKAN MAKANAN KAN..?

Jadi dalam Perjanjian Lama pun, MAKANAN adalah binatang yang HALAL. Apa bedanya dengan zaman Perjanjian Baru, dimana YESUS menyebut semua makanan adalah halal. tak ada beda kan? Kecuali YESUS sebutkan bahwa semua BINATANG adalah halal.

Sekarang kita lihat Yesaya 66:15-17 Tuhan menyatakan tentang nasib orang-orang yang makan babi dan binatang jijik lainnya di akhir zaman:

Pada zaman nabi Yesaya, Tuhan berfirman tentang apa yang terjadi saat kedatangannya di akhir zaman.

Yesaya 66:15-17 berkata : “Sebab sesungguhnya, TUHAN akan datang dengan api, dan kereta-kereta-Nya akan seperti puting beliung, untuk melampiaskan murka-Nya dengan kepanasan dan hardik-Nya dengan nyala api. Sebab TUHAN akan menghukum segala yang hidup dengan api dan dengan pedang-Nya, dan orang-orang yang mati terbunuh oleh TUHAN akan banyak jumlahnya. Mereka yang menguduskan dan mentahirkan dirinya untuk taman-taman dewa, dengan mengikuti seseorang yang ada di tengah-tengahnya, yang memakan daging babi dan binatang-binatang jijik serta tikus, mereka semuanya akan lenyap sekaligus, demikianlah Firman Tuhan.”

Kepada bangsa manakah, Firman Tuhan ini ditujukan ?
Pada ayat selanjutnya,

Yes. 66:18 mengatakan : “Aku mengenal segala perbuatan dan rancangan mereka, dan Aku datang untuk mengumpulkan segala bangsa dari semua bahasa, dan mereka itu akan datang dan melihat kemuliaan-Ku.” Jelas bahwa ayat ini ditujukan kepada semua bangsa dan semua bahasa, bukan hanya bagi bangsa Israel.

Jadi, mereka kristener pemakan babi sedang menunggu suatu saat di akhir zaman, saat dimana Tuhan akan melampiaskan kemarahanNya bagi mereka-mareka yang melanggar pantangan yang Dia sudah nyatakan.

Ada banyak orang yang menganggap bahwa ayat tersebut sudah usang, karena terdapat dalam Kitab Perjanjian Lama. Untuk menanggapi alasan mereka, maka harus dimengerti dahulu tentang istilah

“Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.”
Istilah “Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru “
Dalam 2 Korintus 3:12-16, Paulus mengatakan : “Karena kami mempunyai pengharapan yang demikian, maka kami bertindak dengan penuh keberanian tidak seperti Musa, yang menyelubungi mukanya, supaya mata orang-orang Israel jangan melihat hilangnya cahaya yang sementara itu. Tetapi pikiran mereka telah menjadi tumpul, sebab sampai pada hari ini selubung itu masih tetap menyelubungi mereka, jika mereka membaca perjanjian lama itu tanpa disingkapkan, karena hanya KRISTUS saja yang dapat menyingkapkannya. Bahkan sampai pada hari ini, setiap kali mereka membaca kitab Musa, ada selubung yang menutupi hati mereka. Tetapi apabila hati seorang berbalik kepada Tuhan, maka selubung itu diambil dari padanya.”

Jelas bahwa, bukan berarti dengan datangnya Perjanjian Baru, maka tulisan-tulisan Perjanjian Lama telah berlalu, justru salah satu tujuan datangnya YESUS adalah untuk menyingkap/menjelaskan bacaan Perjanjian Lama. Kalau hati seseorang berbalik kepada Tuhan/ bertobat, ia tidak akan terselubung wajahnya seperti orang Israel pada saat sekarang, karena YESUS akan menjelaskan isi Perjanjian Lama itu.

Lukas 24:27 mencatat bahwa Kitab Perjanjian Lama yaitu Kitab Para Nabi adalah buku Kitab Suci pegangan YESUS : “Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.”

Yang disebut zaman Perjanjian Baru adalah zaman dimana YESUS mulai membentuk kelompok pengikut yang akan menjadi umat Kristen mula-mula. Bukan berarti bahwa zaman itu mereka tidak memakai Kitab Perjanjian Lama, sebab telah jelas diatas bahwa YESUS dan Paulus menggunakan Kitab suci Perjanjian Lama(Kitab Musa dan Para Nabi). Bukankah saat itu buku Kitab Perjanjian Baru belum ada, karena buku tersebut merupakan riwayat kisah kehidupan YESUS dan Paulus dalam menginjil dan menulis surat-surat untuk jemaat-jemaat Kristen mula-mula.. Jadi, setelah YESUS naik ke surga dan Paulus meninggal barulah kisah yang terdapat dalam Kitab Perjanjian Baru selesai ditulis. Hampir 100 tahun kemudian barulah Kitab Perjanjian Baru diterbitkan. Umat Kristen sesudah penerbitan Kitab tersebutlah yang kemudian mulai menggunakan kedua Kitab Perjanjian ini.

Dalam Alkitab, istilah Perjanjian Lama muncul dan ada penjelasannya dalam Kitab Perjanjian Baru(1 Kor.3: 12-16), sedangkan Istilah Perjanjian Baru muncul pertama kali sebaliknya, yakni dalam Kitab Perjanjian Lama, Yermia 31:31-33 : “Sesungguhnya, akan datang waktunya, demikianlah Firman Tuhan, Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan kaum Yehuda, bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka pada waktu Aku memegang tangan mereka untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir; perjanjian-Ku itu telah mereka ingkari, meskipun Aku menjadi tuan yang berkuasa atas mereka, demikianlah Firman Tuhan. Tetapi beginilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu, demikianlah Firman Tuhan: “Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku.”

Jadi Jelas, bahwa dengan datangnya Perjanjian Baru, Taurat yang tadinya dalam Perjanjian Lama hanya dalam bentuk loh batu, tetapi dalam Perjanjian Baru Tuhan masukkan dalam dalam loh-loh hati manusia seperti yang ditegaskan oleh 2 Kor. 3:3 : ” Karena telah ternyata, bahwa kamu adalah surat KRISTUS, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia.”

Jadi, apakah perbedaan utama antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru?
Dalam Perjanjian Lama,Taurat tertulis pada loh-loh batu(dalam Perjanjian Lama), tetapi dalam Perjanjian Baru, tertulis dalam loh-loh hati dan diungkapkan dalam sikap moral sehari-hari sehingga terbaca oleh orang lain sebagai surat KRISTUS.

Artinya, bahwa hukum Taurat memang tidak ditiadakan dalam zaman Perjanjian Baru. Dan YESUS memang menyatakan tidak datang untuk meniadakannya (Matius.5:17). YESUS datang justru untuk membebaskan manusia dari dosa. Dosa adalah pelanggaran akan hukum Allah(1 Yoh. 3:4). Jadi YESUS datang untuk membuat manusia bebas dari pelanggaran terhadap hukum Allah, mereka menjadi orang-orang yang hidup baru, yang hidup menurut hukum Allah.


Sebuah pengalaman YESUS sehubungan dengan “babi” dan permintaan setan.
Sehubungan dengan misiNya di dunia ini sebagai manusia, apakah yang pernah dilakukan YESUS sehubungan dengan binatang yang bernama “babi“?

Mat.8:28-33 menceritakan bahwa YESUS mengusir setan-setan yang merasuk dalam tubuh seseorang yang disembuhkanNya di Gadara saat itu. Setan-setan yang keluar dari tubuh orang ini meminta YESUS agar diperintahkan berpindah ke tubuh sekelompok babi piaraan yang ada di dekat mereka. YESUS kemudian memerintahkan mereka untuk berpindah ke tubuh babi-babi itu. Akhirnya, setan-setan itu membuat babi-babi tersebut meloncat ke danau sehingga mati tenggelam.

Apa makna yang terkandung dalam cerita ini?

Apakah YESUS memang memiliki sikap yang begitu jahat sehingga membuat mata pencaharian si pemilik babi-babi tersebut hilang atau membuat mereka menjadi rugi? Tentu saja tidak! YESUS mengasihi manusia. Karena YESUS datang membawa misi pertobatan bagi manusia. Sudah tentu ada makna dibalik tindakan YESUS sehubungan dengan pertobatan manusia. Sudah pasti, YESUS tidak akan melakukan tindakan yang merugikan orang. Maknanya disini tentu bahwa YESUS tidak menganggap babi adalah makanan manusia. Kalau memang babi adalah binatang yang dihalalkan atau diizinkan YESUS untuk dimakan, tentu Ia tidak akan mengizinkan setan-setan itu memusnahkan binatang peliharaan orang, sehingga merugikan si pemilik babi tersebut. Bagaimanapun juga, Alkitab mencatat bahwa ada dua jenis binatang yang pernah menjadi tujuan setan untuk masuk dan tinggal yaitu ular, waktu menggoda Hawa, dan babi saat di Gadara.




Pengalaman Petrus dengan binatang haram

Kisah Rasul-rasul 10:1-48 mengisahkan tentang peristiwa Petrus yang mendapatkan penglihatan seolah-olah Ia disuruh Tuhan untuk makan binatang yang haram/tidak tahir. Saat itu Petrus menjawab : ”Tidak Tuhan, tidak, sebab aku belum pernah makan sesuatu yang haram dan yang tidak tahir.”(ayat 14) Kita perhatikan bahwa hingga saat itu (ingat! YESUS sudah mati), Petrus masih mempunyai pengertian tentang pembedaan mana yang halal dan mana yang haram! Tentu saja karena Petrus adalah murid YESUS, kita yakin bahwa semua ajaran YESUS telah diketahuinya.
Kalau saja peristiwa kematian YESUS telah membolehkan manusia untuk makan yang haram, maka Petrus akan makan binatang-binatang tersebut.

Roma 14:2-3 : “Yang seorang yakin, bahwa ia boleh makan segala jenis makanan, tetapi orang yang lemah imannya hanya makan sayur-sayuran saja. Siapa yang makan, janganlah menghina orang yang tidak makan, dan siapa yang tidak makan, janganlah menghakimi orang yang makan, sebab Allah telah menerima orang itu.”
Arti kata “makanan” yang disebutkan baik oleh YESUS maupun Paulus sering dianggap sama dengan arti kata “makanan” yang dimengerti oleh kebanyakan orang saat ini. Padahal berbeda. YESUS dan Paulus selalu merujuk ajaran mereka kepada Kitab suci yang diajarkan oleh mereka, yaitu Kitab Taurat dan para nabi. Imamat 11 mengajarkan bahwa ada binatang haram yaitu yang tidak boleh dimakan , jadi artinya bukan makanan !! dan binatang halal yaitu binatang yang boleh dimakan artinya itu adalah makanan. Jadi, istilah “makanan” selalu berarti binatang yang halal. Kita tidak pernah mendapati bahwa YESUS pernah menyatakan semua binatang sudah menjadi halal.

Jadi, Roma 14:2-3 tidak mengarahkan kita tentang boleh tidaknya makan binatang haram, tetapi mengarahkan kepada kita agar jangan menghakimi orang yang makan ataupun tidak makan makanan atau binatang halal atau hanya makan sayuran.

1 Kor.8:8 : “Makanan tidak membawa kita lebih dekat kepada Allah. Kita tidak rugi apa-apa, kalau tidak kita makan dan kita tidak untung apa-apa, kalau kita makan.”
Ayat ini tidak mengarahakan kepada bolehnya seseorang makan binatang haram, tetapi menyatakan bahwa makanan/binatang halal apabila kita makan atau tidak tetaplah tidak membuat kita lebih dekat kepada Allah. Orang makan ayam(masuk binatang halal) atau pun tidak makan ayam tidak berpengarauh kepada keselamatan mereka.

Kol.2:16: “Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman…….,”
Ayat diatas jelas tidak ada hubungannya dengan binatang haram, tapi berhubungan dengan makanan atau binatang halal. Jadi maksudnya, janganlah kita biarkan orang melarang kita makan binatang halal seperti daging domba atau kambing yang pada acara pengorbanan medzbah di kaabah zaman Israel ada peraturan larangan umat Israel untuk makan daging persembahan korban. Yang boleh makan saat itu adalah para imam saja.

Adakah ayat dalam Kitab Perjanjian Baru yang masih secara eksplisit menyatakan bahwa babi dan binatang-binatang yang telah diharamkan di kitab perjanjian lama telah menjadi halal pada Perjanjian baru..??

Rabu, 21 Desember 2011

YOU AnD GOD


Buat para hamba Tuhan...
tatkala Tuhan datangkan UJIAN
pandanglah dgn pandangan IMAN
di saat DIA kirimkan MASALAH/MUSIBAH
hadapilah dgn hati yg TABAH
dikala DIA utuskan CINTANYA pada kita
belajarlah utk berjiwa HAMBA
SENYUMLAH dan BERSYUKURLAH dgn apa yg dikurnia.

one more thing is, we fail to understand that, for example, we all have "phones/hand phones"... but it doesnt mean you can call whoever you wish, or the person you wanna call, without knowing the persons number.... u have to know the "number", for you to be able to call the person, if you miss a single 0 or a single 4, within the number, it will not only say "you have dialed a wrong number".. you will not be able to reach the person you are trying to call....

similar is Pray, i am not saying you are not doing it properly, that is between you and GOD, but we all have this tool, to call upon you GOD, but if you do not call the "correct" manner/way, then it will "not work".... so never lose hope, positive thinking of GOD.